Ayah diam sejenak, menarik nafas pelan.
"Kau tahu, Dam. Ayah seperti di permainkan. Apa lagi yang kurang dari danau ayah? dua tahun sia-sia. Baiklah, ayah tahu apa yang harus ayah kerjakan. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkinhingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Setahun berlalu, ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanah, kedalaman danau sudah sepuluh meter. Guru datang, melihat dengan takzimnya ayah masih berkutat mengeduk tanah. Tiga tahun berlalu, setelah kerja keras siang-malam, akhirnya ayah berhasil menyentuh dasar bebatuan. Air keluar deras dari sela-sela batunya. Ayah tertawa senang. Semua parit ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata airnya sendiri.
"Guru datang pada hari yang di janjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagai kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusuk dasarnya, tetap dengan cepat kemabali bening meski ada air daroi parit yang bocor dan sejenak membuat Sang Guru keruh. Sang Guru menatap ayah , bertanya apakah ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng. Hari itu ayah sudah tahu jawabannya, Dam. Setelah lima tahun bekerja keras hanya untuk memahami sebuah kebijaksanaan hidup sederhana, ayah tahu jawabannya.
"Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagian sejati dari kebahagian yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh sepanjangan.
"Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh mendapat kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia segera iri hati dan gelisah, padahal apa susahnya ikut senang.
"Itulah hakikat sejati kebahagiaan. Ketiak kau bisa membuat hati kau bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih."
Tamat -Sumber inspirasi *Tere Liye*
No response to “Danau Para Sufi (3)”
Leave a reply