Rabu, 10 Juli 2013

Danau Para Sufi (2)

(lanjutan)

  "Sang Guru bilang, 'ketika kau berhasil membuat sebuah danau yang indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat sejati kebahagian. Berangkatlah, setahun kemudian aku akan datang. Aku akan melihat apakah danau itu sudah sebening air mata.' Walau tidak punya ide apapun soal danau itu, ayah mengangguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagian sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi dan spertinya tidak bisa di peroleh hanya dengan membaca buku atau bertanya. Ayah berangkat, memulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung.
  "Kau tahu, Dam, tidak terbilang tanah yang harus ayah pindahkan, berkubang licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari terbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah baru berhenti saat galian itu kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan ayah separuh selesai.  Ayah kemudian membuat parot-parit dari air mata yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang. Tidak lama lagi jawabanng pertanyaan itu akan datang. Lihatlah, danau yang ayah buat sebening air mata.
  "Sesuai janji, Sang Guru datang menjenguk ayah pada hari yang ditentukan. Sialnya, malam sebelum dia datang, hujan turun. Sumber air di hutan menjadi kotor. Ayah yang semangat mengajak Sang Guru ke tepi danau mendesah kecewa. Lihat, danau yang ayah buat jauh dari bening, berubah keruh. Sang Guru menepuk bahu ayah. Sang Guru berkata, ayah tidak boleh putus asa. Tahun depan sang Guru akan kembali. setelah memikirkan jalan keluarnya, ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air tidak keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki seluruh parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar.
  "Setahun berlalu lagi, sang Guru datang menjenguk ayah. Lihat, danau buatan ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan. Sang Guru menggeleng. Dia meraih sepotong bambu panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar saja, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengeluarkan kepul lumpur kecoklatan. Dalam sekejap, danau bening itu musnah. Sang Guru menepuk-nepuk bahu ayah lalu berkata 'Kau pikirkan lagi, tahun depan aku akan kembali'

(bersambung)

No response to “Danau Para Sufi (2)”

Leave a reply