Minggu, 21 Juli 2013

Danau Para Sufi (3)

Ayah diam sejenak, menarik nafas pelan.
 "Kau tahu, Dam. Ayah seperti di permainkan. Apa lagi yang kurang dari danau ayah? dua tahun sia-sia. Baiklah, ayah tahu apa yang harus ayah kerjakan. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkinhingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Setahun berlalu, ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanah, kedalaman danau sudah sepuluh meter. Guru datang, melihat dengan takzimnya ayah masih berkutat mengeduk tanah. Tiga tahun  berlalu, setelah kerja keras siang-malam, akhirnya ayah berhasil menyentuh dasar bebatuan. Air keluar deras dari sela-sela batunya. Ayah tertawa senang. Semua parit ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata airnya sendiri.
 "Guru datang pada hari yang di janjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagai kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusuk dasarnya, tetap dengan cepat kemabali bening meski ada air daroi parit yang bocor dan sejenak membuat Sang Guru keruh. Sang Guru menatap ayah , bertanya apakah ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng. Hari itu ayah sudah tahu jawabannya, Dam. Setelah lima tahun bekerja keras hanya untuk memahami sebuah kebijaksanaan hidup sederhana, ayah tahu jawabannya.
 "Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagian sejati dari kebahagian yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh sepanjangan.
 "Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh mendapat kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia segera iri hati dan gelisah, padahal apa susahnya ikut senang.
 "Itulah hakikat sejati kebahagiaan. Ketiak kau bisa membuat hati kau bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih."

Tamat -Sumber inspirasi *Tere Liye*

Kamis, 11 Juli 2013

Di dunia ini, urusan pentingdan tidak penting hanya terlihat dari kulitnya saja. Orang terkadang lupa, orang-orang yang di sekitanya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya.
                          Tere Liye
Hanya dua pilihan. tidak lebih. tidak kurang. Dua piihan yang sama-sama sulit. Maka ketika skenario itu terjadi, korteksnya menjadi berubah : pilihan rasional diatas dua kemungkinan terburuk.
                                    Tere Liye Negeri Para Bedebah

Rabu, 10 Juli 2013

Danau Para Sufi (2)

(lanjutan)

  "Sang Guru bilang, 'ketika kau berhasil membuat sebuah danau yang indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat sejati kebahagian. Berangkatlah, setahun kemudian aku akan datang. Aku akan melihat apakah danau itu sudah sebening air mata.' Walau tidak punya ide apapun soal danau itu, ayah mengangguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagian sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi dan spertinya tidak bisa di peroleh hanya dengan membaca buku atau bertanya. Ayah berangkat, memulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung.
  "Kau tahu, Dam, tidak terbilang tanah yang harus ayah pindahkan, berkubang licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari terbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah baru berhenti saat galian itu kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan ayah separuh selesai.  Ayah kemudian membuat parot-parit dari air mata yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang. Tidak lama lagi jawabanng pertanyaan itu akan datang. Lihatlah, danau yang ayah buat sebening air mata.
  "Sesuai janji, Sang Guru datang menjenguk ayah pada hari yang ditentukan. Sialnya, malam sebelum dia datang, hujan turun. Sumber air di hutan menjadi kotor. Ayah yang semangat mengajak Sang Guru ke tepi danau mendesah kecewa. Lihat, danau yang ayah buat jauh dari bening, berubah keruh. Sang Guru menepuk bahu ayah. Sang Guru berkata, ayah tidak boleh putus asa. Tahun depan sang Guru akan kembali. setelah memikirkan jalan keluarnya, ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air tidak keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki seluruh parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar.
  "Setahun berlalu lagi, sang Guru datang menjenguk ayah. Lihat, danau buatan ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan. Sang Guru menggeleng. Dia meraih sepotong bambu panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar saja, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengeluarkan kepul lumpur kecoklatan. Dalam sekejap, danau bening itu musnah. Sang Guru menepuk-nepuk bahu ayah lalu berkata 'Kau pikirkan lagi, tahun depan aku akan kembali'

(bersambung)

Selasa, 09 Juli 2013

"Aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu, selain terus menyibukkan diri dan membiarkan waktu menjadi obatnya."
                                                             -Tere Liye, sunset bersama rosie-

Danau Para Sufi (1)

Suatu hari seorang ayah menceritakan kepada anaknya lagi-lagi tentang cerita perjalanannya dan berjanji cerita tersebut cerita terakhir. Akhirnya anaknya mengangguk menyetujui.

"Dalam suatu perjalanan jauh yang pernah ayah lakukan, ayah tiba di perkampungan para sufi. Kau tahu apa itu sufi? sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna hidup, dan prinsip-prinsip hidup yang agung. Ayah tahu, diantara banyak sufi, tidak semuanya yang berhasil mencari pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa itu tujuan dan makna hidup, ada pula yang telah berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagian hidup. Pertanyaan penting. Apakah hakikat sejati kebahagian hidup? Apa definisi kebahagian? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar kabar buruk? kenapa hidup kita seperti dikendalikan oleh benda yang disebut hati? tidak ada diantara sekelompok sufi itu menjelaskan dengan memuaskan. Mereka menggeleng hingga akhirnya salah seorang dari mereka yang menyarankan ayah berangkat ke salah satu lereng gunung, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengambil ransel , berangkat siang itu juga.
"Ayah menemui sang guru. Dia menerima ayah dengan ramah, memberi ayah kesempatan bertanya. pertanyaan ayah hanya satu, Dam. Apakah hakikat sejati kebahagian hidup? dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang Guru berdiam lama, menggeleng, berkata bahwa ayah memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di duni yang bisa menjawabnya. Ayah mendesa kecewa, ke mana lagi ayah harus mencari tahu. Sang Guru menatap ayah lamat-lamat, berpikir sejenak . Seberapa tangguh ayah mencari tahu? ayah berkata mantap, apapun akan ayah lakukan. 
"Sang Guru tersenyum. Dia memberikan pekerjaanteraneh yang pernah ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan. Perkampungan itu butuh sumber air berupa danau. Sang Guru menyuruh ayah membuat danau di tanah luas itu. Astaga, Dam, benar-benar sebuah danau. Itu bukan pekerjaan mudah." Ayah tertawa pelan, membuat napasnya sedikit tersengal.

(Bersambung)