Selasa, 09 Juli 2013

Danau Para Sufi (1)

Suatu hari seorang ayah menceritakan kepada anaknya lagi-lagi tentang cerita perjalanannya dan berjanji cerita tersebut cerita terakhir. Akhirnya anaknya mengangguk menyetujui.

"Dalam suatu perjalanan jauh yang pernah ayah lakukan, ayah tiba di perkampungan para sufi. Kau tahu apa itu sufi? sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna hidup, dan prinsip-prinsip hidup yang agung. Ayah tahu, diantara banyak sufi, tidak semuanya yang berhasil mencari pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa itu tujuan dan makna hidup, ada pula yang telah berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagian hidup. Pertanyaan penting. Apakah hakikat sejati kebahagian hidup? Apa definisi kebahagian? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar kabar buruk? kenapa hidup kita seperti dikendalikan oleh benda yang disebut hati? tidak ada diantara sekelompok sufi itu menjelaskan dengan memuaskan. Mereka menggeleng hingga akhirnya salah seorang dari mereka yang menyarankan ayah berangkat ke salah satu lereng gunung, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengambil ransel , berangkat siang itu juga.
"Ayah menemui sang guru. Dia menerima ayah dengan ramah, memberi ayah kesempatan bertanya. pertanyaan ayah hanya satu, Dam. Apakah hakikat sejati kebahagian hidup? dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang Guru berdiam lama, menggeleng, berkata bahwa ayah memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di duni yang bisa menjawabnya. Ayah mendesa kecewa, ke mana lagi ayah harus mencari tahu. Sang Guru menatap ayah lamat-lamat, berpikir sejenak . Seberapa tangguh ayah mencari tahu? ayah berkata mantap, apapun akan ayah lakukan. 
"Sang Guru tersenyum. Dia memberikan pekerjaanteraneh yang pernah ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan. Perkampungan itu butuh sumber air berupa danau. Sang Guru menyuruh ayah membuat danau di tanah luas itu. Astaga, Dam, benar-benar sebuah danau. Itu bukan pekerjaan mudah." Ayah tertawa pelan, membuat napasnya sedikit tersengal.

(Bersambung)

No response to “Danau Para Sufi (1)”

Leave a reply