Jumat, 08 Maret 2013

Hujan Di Bulan Juni



Pernahkan kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja? Hari-harimu pasti berubah jadi pucat basi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, tetapi tak kunjung tercapai. Kaupasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya.Masih ingat jelas dibenakku kehangatan kasih ibu yang kudapatkan setiap hari. Setiap pagi rutinitas yang tak pernah kutinggalkan adalah mengetuk pintu kamar ibuku dan mengucapakan “Assalamuaikum ibu!”, lalu menghujaninya sejuta ciuman dipipinya. Dan mengenggam erat tangannya yang halus dan suci sambil mengecup tangannya serayap berucap semoga hari ini  Allah memberikan kita kesehatan dan kesabaran,  sehingga kita dapat melakukan aktivitas hari ini dengan lancar dan mendapat ridho oleh Allah SWT,  lalu kami sholat subuh berjamaah . Makan sarapan pagi bersama-sama, sepertinya aku tak perlu menunggu hari ibu untuk menunjukkan rasa cinta kasihku kepada Beliau. Aku kasih kepada ibuku. Aku pun merasakan bahwa ibuku kasih kepadaku.

“Apakah kalian pernah mendengar kisah seorang budak wanita  yang bersahaja bernama Siti Hajar yang diperistri oleh nabi Ibrahim AS.?”. Diceritakan bahwa Siti Hajar   sebagai salah satu makhluk mulia dipilih oleh Allah SWT. memiliki pengalaman hidup yang dapat kita pelajari darinya, dalam mencari kehidupan duniawi ini.  Adanya keyakinan dari seorang wanita akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah SWT.,serta kasih sayangnya yang tulus kepada putranya nabi Ismail AS.  mencari air disuatu lembah tandus. Ia bersedia ditinggal bersama anaknya di suatu lembah tandus. Keyakinan yang begitu dalam tidak menjadikannya berpangku tangan dengan hanya menunggu turunnya hujan dari langit, tetapi ia berusaha mondar-mandir berkali-kali mendaki buah bukit Safa kebukit Marwa demi mencari kehidupan.
Makna-makna tersebut tersirat mengingatkanku tentang perjuangan yang telah kualami bersama ibu selama ini. Sampai aku berada dititik ini  menjadi orang sukses yang terlahir dari anak penjual kue.Kini aku adalah Dr. Ahli bedah disalah satu rumah sakit ternama di Singapura.   Hampir setiap hari kulewati hari-hariku bersama ibuku,sejak sekolah dasar, aku dididik mandiri oleh ibuku. Pada saat aku berusia 10 tahun, ibuku mendidikku supaya bisa mencari uang sendiri memenuhi kebutuhan kehidupanan sekolahku.Setiap berangkat sekolah, ibuku menyertakan bermacam-macam kue dalam satu tas untuk dijual di sekolah.Semenjak kematian ayahku, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga.Sehingga masih kurasakan sampai detik ini bau keringat yang membasahi tubuhnya tetapi ibuku masih bisa tersenyum walau aku tahu dia letih.Hampir setiap pagi,siang dan malam aku melihat ibu membuat kue untuk memenuhi panggailan tugas seorang single parents agar bisa menjadi pupuk yang menyuburkan kehidupan anaknya,kata ibuku jika orang di kantoran kerja selama 8 jam, kita harus 2 kali lebih banyak kerjanya dari mereka agar kita bisa sukses. Sehingga aku berjuang keras mempersiapkan diri dengan baik.

Dengan belajar 2 kali lebih banyak dari yang biasa para siswa lakukakan,agar mampu menghasilkan lulusan yang bermutu dan andal.
Ibuku membuatku mengerti dalam hidup ini, tugas manusia adalah berupaya semaksimal mungkin berjuang hasil usahanya dapat diperoleh melalui usahanya. Kubaca berulang-ulang kali kata-kata dari bait  puisi Sapardi Djoko Damono lewat “ Hujan di bulan Juni”Irama puisi itu diekspresikan dengan lembut sebagai perwujudan dari rasa kagum dan simpatiku  kepada ibuku.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkanya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
karya  Sapardi Djoko Damonong
            Ia  memburaikan banyak kenangan bagiku. Benar kata orang “Kasih Ibu Sepanjang Zaman Bukan Sepanjang Jalan, Tak Akan Pernah Lekang  Panas dan Lapuk di hujan ”. Hal itu tampak dari kata-kata pujian yang ditujukan pada “Hujan bulan Juni   yang  sikap tabah,bijak, dan arif.” Sifat itu biasanya dimiliki oleh manusia,bukan?” Tak terkecuali ibuku, sosok yang tepat untuk kugambarkan di dalam puisi itu. Ibuku adalah salah satu perempuan-perempuan perkasa di bumi ini. Seorang wanita yang dapat mengubah pikiranku, bahwa kita terhadap Tuhan harus mencapai seperti seorang anak kecil yang ketergantungan kepada ibunya, mau melakukan  apa-apa membutuhkan Tuhannya. Mohon petunjuk Allah SWT. setiap mempunyai hajad. Tunaikan dulu kewajibanmu kepada Tuhan-Mu maka Tuhan-Mu segera akan menunaikan hajadmu.   Pelajaran itu   saya dapatkan juga dari manasikh haji  bersama ibuku 2 tahun yang lalu, kenangan terakhir setelah kami menunaikan ibadah haji bersama. Tetapi jauh sebelum kami mendapatkan pelajaran tersebut, kami sudah merasakan betapa lezatnya bermengenal Allah .  Hasil usaha keras pasti akan diperoleh baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami oleh Siti Hajar AS. bersama putranya Isma’il  dengan ditemukannya air zamzam itu. Denga kejadian-kejadian yang telah kami lewati, bahwa mengenal Allah itu baru datang setelah upaya maksimal kami sebagai  manusia.  Sebelum kami harus terpisah jauh menjalani kodrat diri disinggasana laufuk mahfudz.
“Ya , aku dan ibuku telah menerima buah kesuksesan dari hasil kerja keras kami”.  Sampai akhirnya ibuku pergi dari dunia yang fana ini. Pergi menemui sang khaliq. Air mataku mengalir deras saat itu. Imaginasiku bermain indah mengingat semua kenangan bersama ibuku tercinta.
Kini  aku  sudah menjadi seorang ibu. Setiap pagi, ku siapkan sarapan untuk anakku seperti yang biasa ibuku lakukan untukku. Tetapi sayang anakku tak pernah memakan sarapan yang telah ku sediakan. Bahkan ia tak pernah menggubrisku. Ia sering berkata kasar padaku, apabila aku meminta tolong padanya. Ia selalu berkata “ahh!”.. padaku.Tetapi aku yakin, saat ini Allah sedang mengujiku lewat anakku. Allah tak akan pernah memberikan cobaan diatas kemampuan hambanya. Aku menyadari, aku tak banyak waktu untuk buah hatiku  seperti ibuku. Yang 24 jam selalu menemaniku dulu. Mungkin karena itulah yang membuat anakku sibuk dengan dunianya sendiri. Aku ingin seperti ibuku yang menjadi Hujan di Bulan Juni di pandangan mata anaknya. Tetapi aku sadar, aku tak bisa sesempurna ibuku. Tuntutan pekerjaan membuatku tak bisa melakukan ini semua, terkadang aku menyesal karena tak banyak waktu untuk anakku tapi di setiap tidurnya, aku berdoa untuk kebahagiaan anakku. Tak pernah lupa selepas bada sholat mengirimkan doa restuku kepada anakku ,ku kirim al-Fatihah untuk anakku agar hatinya menjadi lunak dan kembali menjadi anak yang memiliki kasih sayang terhadapku.Aku juga menambahkan doa Qunut Nazilah pada sholat zuhur, agar Allah berkenan membolak-balik hati anakku menjadi anak yang patuh dan rajin belajar.
Allah adalah Allah
Allah adalah Pembimbing dan Pemelihara
Pertolongan-Nya cukup bagiku
Bagiku, tiada lain selain Allah

Aku sangat menyukai lirik lagi ini sepertinya liriknya sederhana namun merasuk jauh ke dalam sanubariku, aku mengetahui apa yang selama ini Romi cari. Bagaikan sebuah ganjalan besar yang selama ini menyelubungi hatiku terpecahkan, air mataku mengalir semakin deras, menjadi sebuah isakan haru, penyesalan, dan bahagia yang memancarkan aura baru yang dirasakanku dalam hati dan jiwa.Anakku tersayang Romi, “pertanyaan ini  mungkin yang sering muncul di benakmu bahwa ibu serakah akan pekerjaan ibu”.”Hal demikian itu tidak benar nak!”. Ibu katakan nak, bahwa tak ada pekerjaan yang lebih penting dari sekedar menjadi dokter. “Yakni,menjalani kehidupan, mencintaimu nak!”.” Inilah pekerjaan terpenting bagi ibu, nak!  setiap hari”.Ibu berjanji akan menjadi wanita muslimah yang berkualitas dengan kemampuannya mempersiapkan generasi intelektual muslim untukmu,nak!”  . “Maukah kau mengujudkannya denganku nanti,nak?” Ibu tunggu ya, ibu ingin bicara denganmu setiap hari dan membangun kualitas hubungan yang baik, sekalipun terkadang  hanya mendengarkan coletahanmu tentang cewek-cewek cantik di sekolahmu yang naksir padamu. Mendengarkan keluhanmu yang mengatakan capek karena habis main fulsall bersama teman-temanmu dan sibuk latihan vocal sama teman-teman bandmu. Asyik mendengarkan keingananmu ingin menjadi pemain sepakbola terkenal dan juga ingin menjadi  artis top. Aku ingin tidur di sofa saja rasanya, supaya anakku Romi bisa bebas   ngobrol tanpa harus takut membangunkan tidurku. Aku juga gelisah karena anakku pun nyaris tak pernah memenggang buku pelajaran di sekolahnya.Sebagai anak  pelajar kenapa ia  tidak mau repot-repot mempersiapkan diri dengan baik. Katanya cukup dengan nebeng pada temannnya yang berotak cemerlang. Dalam kondisi demikian, mana mungkin Surga Berada di bawah Telapak Kaki Ibu, karena ibunya gagal mendidik anaknya sebagai orang yang pertama mengenalkan akhlak cara  menuntut  ilmu yang baik  kepadanya. 
Tiba-tiba saja Romi telah membaca  jejaring sosialku di Twitter,  dengan meneteskan air mata. “Aku baru menyadari kesalahanku selama ini Ibu!”.  Balasnya.
Akupun tersenyum, memahami perkataan anakku.Aku merasa berada dalam sebuah perjalanan jiwa yang sangat panjang sampai tiba-tiba aku menyadari, ternyata anakku Romi sudah berubah. Inilah jawaban dari doa yang kuharapan selama ini. Sekarang baru aku merasakan kekhawatiran seorang ibu akan masa depan anaknya,  seperti apa yang dirasakan oleh ibuku dahulu. Dilema seorang ibu yang meninggalkan seorang anak yang lemah, baik lemah ilmu dunia dan akhirat.  Alhamdullillah sekarang  tiap pagi, dia membangunkan aku dengan sejuta ciuman kasih sayangnya, sarapan pagi bersama. Kini aku bahagia dapat  mendengar anakku sedang menghapal pelajaran sekolahnya dan sering membaca buku lebih banyak dari biasanya, karena di rumah dia termasuk anak yang jarang menonton telivisi. Waktu  di rumah banyak dihabiskannya untuk membaca.   Aku  tahu perubahan sikapnya karena rasa cintanya padaku. Kini hatiku dan anakku damai. Terima kasih Ibu atas kasih sayangmu yang telah diberikan padaku dulu, sehingga dapatku pancarkan pula kepada anakku kini . Nilai pelajaran luhur yang Engkau berikan kepadaku, dengan segenap jiwa dan raga, sangat berguna bagiku untuk  menjalankan hidup dengan anakku kini dan nantinya.
Pikirkupun melayang dahulu penuh kasih
Teringat cerita semua orang tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oooh Bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hatiku
Suara Melly Gloslow lewat “Bunda” itu mengalir di Beranda rumahku di suatu sore. Benar kata orang bijak, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu.
Pada suatu sore nan cerah ini, kami berbincang-bincang di serambi berendah rumah kami sambil mendengar lagu “Bunda” suara Melly. 

“Anakku Romi”,kataku. (Setelah lagu berhenti)
"Engkau boleh menjadi pemain sepakbola yang terkenal dan boleh juga menjadi arti terkenal!”. Ibu tetap berharap menjadikanmu  intelektual muslim yang mempelajari kitab suci dan al -hadist secara terus-menerus dalam rangka mengamalkannya dalam bermasyarakat,berbangsa dan bernegara, Karena itulah yang dapat menjamin kebahagian hidup dunia dan akhirat. 
Dan wajib muslim dan muslimat  mencari ilmu agama nak!,” Ingat juga bahwa jika telah mendapat ilmu, wajiblah kau mengamalkannya  Ilmu tanpa diamalkan bagai pohon tak berbuah, atau Awan yang tak menghasilkan hujan. Ini yang dimohonkan Nabi agar beliau terhindar darinya,nak! Inilah salah satu tujuan kita hidup di dunia, nak." kataku
Romi menatapku dan berkata agak terbata-bata. Aku baru menyadari bahwa ibu adalah Hujan di bulan Juni bagiku
"Oh ibu!..... aku sayang padamu.” (sambil memelukku). Aku menatap titik-titik air hujan di depan beranda rumahku sambil tersenyum tipis,  dan sambil berdoa semoga kami selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

No response to “Hujan Di Bulan Juni”

Leave a reply