Pernahkan kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi
hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja? Hari-harimu pasti berubah jadi pucat
basi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan
sekuat daya, tetapi tak kunjung tercapai. Kaupasti jadi kecewa seraya
menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya.Masih
ingat jelas dibenakku kehangatan kasih ibu yang kudapatkan setiap hari. Setiap
pagi rutinitas yang tak pernah kutinggalkan adalah mengetuk pintu kamar ibuku
dan mengucapakan “Assalamuaikum ibu!”, lalu menghujaninya sejuta ciuman
dipipinya. Dan mengenggam erat tangannya yang halus dan suci sambil mengecup
tangannya serayap berucap semoga hari ini Allah memberikan kita kesehatan dan kesabaran, sehingga kita dapat melakukan aktivitas hari
ini dengan lancar dan mendapat ridho oleh Allah SWT, lalu kami sholat subuh berjamaah . Makan
sarapan pagi bersama-sama, sepertinya aku tak perlu menunggu hari ibu untuk
menunjukkan rasa cinta kasihku kepada Beliau. Aku kasih kepada ibuku. Aku pun
merasakan bahwa ibuku kasih kepadaku.
“Apakah kalian pernah mendengar kisah seorang budak wanita yang bersahaja bernama Siti Hajar yang
diperistri oleh nabi Ibrahim AS.?”. Diceritakan bahwa Siti Hajar sebagai salah satu makhluk mulia dipilih oleh
Allah SWT. memiliki pengalaman hidup yang dapat kita pelajari darinya, dalam
mencari kehidupan duniawi ini. Adanya keyakinan
dari seorang wanita akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah SWT.,serta kasih
sayangnya yang tulus kepada putranya nabi Ismail AS. mencari air disuatu lembah tandus. Ia bersedia
ditinggal bersama anaknya di suatu lembah tandus. Keyakinan yang begitu dalam
tidak menjadikannya berpangku tangan dengan hanya menunggu turunnya hujan dari
langit, tetapi ia berusaha mondar-mandir berkali-kali mendaki buah bukit Safa
kebukit Marwa demi mencari kehidupan.
Makna-makna tersebut tersirat mengingatkanku tentang perjuangan
yang telah kualami bersama ibu selama ini. Sampai aku berada dititik ini menjadi orang sukses yang terlahir dari anak
penjual kue.Kini aku adalah Dr. Ahli bedah disalah satu rumah sakit ternama di
Singapura. Hampir setiap hari kulewati
hari-hariku bersama ibuku,sejak sekolah dasar, aku dididik mandiri oleh ibuku.
Pada saat aku berusia 10 tahun, ibuku mendidikku supaya bisa mencari uang
sendiri memenuhi kebutuhan kehidupanan sekolahku.Setiap berangkat sekolah,
ibuku menyertakan bermacam-macam kue dalam satu tas untuk dijual di
sekolah.Semenjak kematian ayahku, ibulah yang menjadi tulang punggung
keluarga.Sehingga masih kurasakan sampai detik ini bau keringat yang membasahi
tubuhnya tetapi ibuku masih bisa tersenyum walau aku tahu dia letih.Hampir
setiap pagi,siang dan malam aku melihat ibu membuat kue untuk memenuhi
panggailan tugas seorang single parents agar bisa menjadi pupuk yang menyuburkan
kehidupan anaknya,kata ibuku jika orang di kantoran kerja selama 8 jam, kita
harus 2 kali lebih banyak kerjanya dari mereka agar kita bisa sukses. Sehingga
aku berjuang keras mempersiapkan diri dengan baik.
Dengan belajar 2 kali lebih banyak dari yang biasa para siswa
lakukakan,agar mampu menghasilkan lulusan yang bermutu dan andal.
Ibuku membuatku mengerti dalam hidup ini, tugas manusia
adalah berupaya semaksimal mungkin berjuang hasil usahanya dapat diperoleh
melalui usahanya. Kubaca berulang-ulang kali kata-kata dari bait puisi Sapardi Djoko Damono lewat “ Hujan di
bulan Juni”Irama puisi itu diekspresikan dengan lembut sebagai perwujudan dari
rasa kagum dan simpatiku kepada ibuku.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkanya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
karya Sapardi Djoko
Damonong
Ia
memburaikan banyak kenangan bagiku.
Benar kata orang “Kasih Ibu Sepanjang Zaman Bukan Sepanjang Jalan, Tak Akan
Pernah Lekang Panas dan Lapuk di hujan ”.
Hal itu tampak dari kata-kata pujian yang ditujukan pada “Hujan bulan Juni” yang sikap tabah,bijak, dan arif.” Sifat itu
biasanya dimiliki oleh manusia,bukan?” Tak terkecuali ibuku, sosok yang tepat
untuk kugambarkan di dalam puisi itu. Ibuku adalah salah satu
perempuan-perempuan perkasa di bumi ini. Seorang wanita yang dapat mengubah
pikiranku, bahwa kita terhadap Tuhan harus mencapai seperti seorang anak kecil
yang ketergantungan kepada ibunya, mau melakukan apa-apa membutuhkan Tuhannya. Mohon petunjuk
Allah SWT. setiap mempunyai hajad. Tunaikan dulu kewajibanmu kepada Tuhan-Mu
maka Tuhan-Mu segera akan menunaikan hajadmu.
Pelajaran itu saya dapatkan juga
dari manasikh haji bersama ibuku 2 tahun
yang lalu, kenangan terakhir setelah kami menunaikan ibadah haji bersama.
Tetapi jauh sebelum kami mendapatkan pelajaran tersebut, kami sudah merasakan
betapa lezatnya bermengenal Allah . Hasil usaha keras pasti akan diperoleh baik
melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami oleh Siti
Hajar AS. bersama putranya Isma’il dengan ditemukannya air zamzam itu. Denga
kejadian-kejadian yang telah kami lewati, bahwa mengenal Allah itu baru datang
setelah upaya maksimal kami sebagai manusia.
Sebelum kami harus terpisah jauh menjalani kodrat diri disinggasana
laufuk mahfudz.
“Ya , aku dan ibuku telah menerima buah kesuksesan dari hasil
kerja keras kami”. Sampai akhirnya ibuku
pergi dari dunia yang fana ini. Pergi menemui sang khaliq. Air mataku mengalir
deras saat itu. Imaginasiku bermain indah mengingat semua kenangan bersama
ibuku tercinta.
Kini aku sudah menjadi seorang ibu. Setiap pagi, ku
siapkan sarapan untuk anakku seperti yang biasa ibuku lakukan untukku. Tetapi
sayang anakku tak pernah memakan sarapan yang telah ku sediakan. Bahkan ia tak
pernah menggubrisku. Ia sering berkata kasar padaku, apabila aku meminta tolong
padanya. Ia selalu berkata “ahh!”.. padaku.Tetapi aku yakin, saat ini Allah
sedang mengujiku lewat anakku. Allah tak akan pernah memberikan cobaan diatas
kemampuan hambanya. Aku menyadari, aku tak banyak waktu untuk buah hatiku seperti ibuku. Yang 24 jam selalu menemaniku
dulu. Mungkin karena itulah yang membuat anakku sibuk dengan dunianya sendiri.
Aku ingin seperti ibuku yang menjadi Hujan di Bulan Juni di pandangan mata
anaknya. Tetapi aku sadar, aku tak bisa sesempurna ibuku. Tuntutan pekerjaan
membuatku tak bisa melakukan ini semua, terkadang aku menyesal karena tak
banyak waktu untuk anakku tapi di setiap tidurnya, aku berdoa untuk kebahagiaan
anakku. Tak pernah lupa selepas bada sholat mengirimkan doa restuku kepada
anakku ,ku kirim al-Fatihah untuk anakku agar hatinya menjadi lunak dan kembali
menjadi anak yang memiliki kasih sayang terhadapku.Aku juga menambahkan doa
Qunut Nazilah pada sholat zuhur, agar Allah berkenan membolak-balik hati anakku
menjadi anak yang patuh dan rajin belajar.
Allah adalah
Allah
Allah adalah
Pembimbing dan Pemelihara
Pertolongan-Nya
cukup bagiku
Bagiku,
tiada lain selain Allah
Aku sangat menyukai lirik lagi ini sepertinya liriknya
sederhana namun merasuk jauh ke dalam sanubariku, aku mengetahui apa yang
selama ini Romi cari. Bagaikan sebuah ganjalan besar yang selama ini
menyelubungi hatiku terpecahkan, air mataku mengalir semakin deras, menjadi
sebuah isakan haru, penyesalan, dan bahagia yang memancarkan aura baru yang
dirasakanku dalam hati dan jiwa.Anakku tersayang Romi, “pertanyaan ini mungkin yang sering muncul di benakmu bahwa
ibu serakah akan pekerjaan ibu”.”Hal demikian itu tidak benar nak!”. Ibu
katakan nak, bahwa tak ada pekerjaan yang lebih penting dari sekedar menjadi
dokter. “Yakni,menjalani kehidupan, mencintaimu nak!”.” Inilah pekerjaan
terpenting bagi ibu, nak! setiap hari”.Ibu
berjanji akan menjadi wanita muslimah yang berkualitas dengan kemampuannya
mempersiapkan generasi intelektual muslim untukmu,nak!” . “Maukah kau mengujudkannya denganku
nanti,nak?” Ibu tunggu ya, ibu ingin bicara denganmu setiap hari dan membangun
kualitas hubungan yang baik, sekalipun terkadang hanya mendengarkan coletahanmu tentang
cewek-cewek cantik di sekolahmu yang naksir padamu. Mendengarkan keluhanmu yang
mengatakan capek karena habis main fulsall bersama teman-temanmu dan sibuk
latihan vocal sama teman-teman bandmu. Asyik mendengarkan keingananmu ingin
menjadi pemain sepakbola terkenal dan juga ingin menjadi artis top. Aku ingin tidur di sofa saja
rasanya, supaya anakku Romi bisa bebas ngobrol
tanpa harus takut membangunkan tidurku. Aku juga gelisah karena anakku pun
nyaris tak pernah memenggang buku pelajaran di sekolahnya.Sebagai anak pelajar kenapa ia tidak mau repot-repot mempersiapkan diri
dengan baik. Katanya cukup dengan nebeng pada temannnya yang berotak cemerlang.
Dalam kondisi demikian, mana mungkin Surga Berada di bawah Telapak Kaki Ibu,
karena ibunya gagal mendidik anaknya sebagai orang yang pertama mengenalkan akhlak
cara menuntut ilmu yang baik kepadanya.
Tiba-tiba saja Romi telah membaca jejaring sosialku di Twitter, dengan meneteskan air mata. “Aku baru
menyadari kesalahanku selama ini Ibu!”.
Balasnya.
Akupun tersenyum, memahami perkataan anakku.Aku merasa berada
dalam sebuah perjalanan jiwa yang sangat panjang sampai tiba-tiba aku
menyadari, ternyata anakku Romi sudah berubah. Inilah jawaban dari doa yang kuharapan
selama ini. Sekarang baru aku merasakan kekhawatiran seorang ibu akan masa
depan anaknya, seperti apa yang
dirasakan oleh ibuku dahulu. Dilema seorang ibu yang meninggalkan seorang anak
yang lemah, baik lemah ilmu dunia dan akhirat. Alhamdullillah sekarang tiap pagi, dia membangunkan aku dengan sejuta
ciuman kasih sayangnya, sarapan pagi bersama. Kini aku bahagia dapat mendengar anakku sedang menghapal pelajaran
sekolahnya dan sering membaca buku lebih banyak dari biasanya, karena di rumah
dia termasuk anak yang jarang menonton telivisi. Waktu di rumah banyak dihabiskannya untuk membaca. Aku tahu perubahan sikapnya karena rasa cintanya
padaku. Kini hatiku dan anakku damai. Terima kasih Ibu atas kasih sayangmu yang
telah diberikan padaku dulu, sehingga dapatku pancarkan pula kepada anakku kini
. Nilai pelajaran luhur yang Engkau berikan kepadaku, dengan segenap jiwa dan
raga, sangat berguna bagiku untuk menjalankan hidup dengan anakku kini dan
nantinya.
Pikirkupun melayang dahulu penuh kasih
Teringat cerita semua orang tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oooh Bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hatiku
Suara Melly
Gloslow lewat “Bunda” itu mengalir di Beranda rumahku di suatu sore. Benar kata
orang bijak, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu.
Pada suatu sore nan cerah ini, kami berbincang-bincang
di serambi berendah rumah kami sambil mendengar lagu “Bunda” suara Melly.
“Anakku Romi”,kataku. (Setelah lagu berhenti)
"Engkau boleh menjadi pemain sepakbola yang terkenal dan boleh juga menjadi arti terkenal!”. Ibu tetap berharap menjadikanmu intelektual muslim yang mempelajari kitab suci dan al -hadist secara terus-menerus dalam rangka mengamalkannya dalam bermasyarakat,berbangsa dan bernegara, Karena itulah yang dapat menjamin kebahagian hidup dunia dan akhirat.
Dan wajib muslim dan muslimat mencari ilmu agama nak!,” Ingat juga bahwa jika telah mendapat ilmu, wajiblah kau mengamalkannya Ilmu tanpa diamalkan bagai pohon tak berbuah, atau Awan yang tak menghasilkan hujan. Ini yang dimohonkan Nabi agar beliau terhindar darinya,nak! Inilah salah satu tujuan kita hidup di dunia, nak." kataku
Romi menatapku dan berkata agak terbata-bata. Aku baru menyadari bahwa ibu adalah Hujan di bulan Juni bagiku.
"Oh ibu!..... aku sayang padamu.” (sambil memelukku). Aku menatap titik-titik air hujan di depan beranda rumahku sambil tersenyum tipis, dan sambil berdoa semoga kami selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.
No response to “Hujan Di Bulan Juni”
Leave a reply