Andai kata ada pilihan selain Bertahan Untuk Sakit atau Pergi Untuk sembuhkan Luka maka akan memilih pilihan itu bagaimanapun caranya.
Harus seperti ini lagi? sakit? kenapa? NTAHLAH.
Saat itu gemuruh seperti ikut memporak-porandakan hatiku, membuat rusuh sedang merintih kesakitan, sakit yang tak ada satupun yang bisa mengerti.
Aku selalu jatuh di lubang yang sama, selalu jatuh cinta terhadap orang
yang salah, selalu saja merasakan terlalu sakit untuk bertahan tapi
terlalu cinta untuk melepasakan. Jika sudah pada klimaksnya, biasanya aku tak
mampu menahan genangan air itu untuk tak meluncur jatuh dan meninggalkan
jejak basah di kedua pipiku. Cinta yang dipertahankan itu terlalu
rumit untukku. Yang aku tahu, hanya bentuk air mata yang aku namakan cinta ini.
Ketika semua orang bertanya kepadaku, hanya senyum kecil yang aku torehkan bersikap semuanya baik-baik saja. Tentu itu bukanlah sebenarnya. Segelintir dari mereka saja yang tau dan memahami apa yang aku rasakan meskipun itu sangat tidak membantu untuk menyelesaikan, hanya kata-kata untuk membangkitkan agar aku tidak telalu jatuh terlampau dalam. Mudah saja berbuai dalam bentuk kata-kata tetapi sangat berat melakukannya, jelas itulah yang nampak. Begitu beratnya hingga harus berujung air mata membasahi.
Aku pun tak memahami perasaan yang sulit untuk dimengerti. Dengan mudahnya aku bisa bersimbah air mata bila
mengingat segala hal yang berkaitan dengannya. Rasanya sedih sekali. Ada
perasaan hancur. Seperti ada sesuatu yang hilang dihati. Sesuatu
yang pergi dan tak kembali. Sesuatu tercerabut paksa hingga meninggalkan
rasa pedih di hati. Begitulah yang aku rasakan. Entahlah, aku yang
terlalu melankoli atau terlalu perasa seperti yang pernah aku bilang
tentangnya.
Selalu ada pertanyaan yang muncul tiap kali menitikan air mata; Terlampau sayang merawat luka? Terlalu sabar menjaga masa lalu? Terlalu
kasih mengasuh malam? Hingga sepeninggalnya nyeri hatimu terasa lebih
menyakitkan dari disayat sembilu.
Benarkah aku seperti itu? Astaghfirullahaladzim.
Ya Allah, sesakit itukah? Bagaimana caranya aku menyembuhkannya sedangkan aku tak memiliki cara untuk itu. mengapa harus ada pilihan Bertahan harus menanggung sakit dan Pergi pun harus merasakan sakit pula meskipun demi kesembuhan luka. Benar ini pilihan sulit. Andaikata ada pilihan selain itu maka aku akan memilih pilihan itu tanpa ada rasa sakit. Dan itu jelas tidak ada.
Sekarang aku tidak memilih, hanya berdiam saja mungkin baik sekarang. Berpura-pura hanya itu yang bisa aku katakan. Berharap semuanya baik-baik saja dan selalu ada kata indah pada waktunya.
Sesakit apapun tak seharusnya aku terlampau jauh untuk terhanyut. Mengingat hari-hariku kedepan ditunggu 1001 pekerjaan yang harus aku selesaikan dan memanfaat waktu untuk lebih baik. Sakit bukan berarti harus selalu.
Tentangnya? Berusaha untuk tidak terlalu terhanyut untuk itu, biarlah karena semua yang terjadi setidaknya pernah menjadi saksi tentang aku dan dirinya dan menganggap masalalu itu pernah menjadi milik bersama. Tak banyak yang aku harapkan, hanya melihatnya tersenyum dari kejauhan saja lebih dari cukup, asal itu membuatnya bahagia tentu saja tak ada alasan aku untuk tidak bahagia kan? Tenang saja doaku selalu kukirimkan.
Ini jadi bahan untuk berkaca diri bahwa Cinta yang abadi itu hanya untuk Yang Maha Pemilik Cinta yang sesungguhnya, Cinta sekarang buah Anugerah dan titipan untuk umat-Nya.
-Dilla Astria#46

No response to “Coretan Yang Berbekas”
Leave a reply