Minggu, 10 Maret 2013

Aku Mentari

    Hallo Mentari. Mentari begitu indah terbit di ufuk Timur. Menyenangkan. Tentram menuai ketenangan.
Waktu pagi adalah waktu yang selalu dinantikan dimana ada bagian baru yang sangat bernilai untuk memulai segala aktivitas selama 24 jam. Dimana semangat baru itu sedang bergelora dan dimulai dengan senyuman untuk melupakan sejenak masalah di hari kemarin.
     Begitulah arti dari namaku. Indah sekali. Orangtuaku memberi namaku Mentari Hanifa, Hanifa itu sendiri gabungan dari nama mereka. Tidak, kali ini bukan membahas namaku tetapi Getirnya dalam kehidupan.
Di pemukiman ini aku hidup bersama orangtuaku. Tempat yang strategis ditengah kota. Ramai. Dan tetangga-tetangga yang begitu baik dan ramah kepada kami. Ayahku adalah seorang TNI. Sosok yang dipercaya melindungi masyarakat dan negara itu sendiri. Ibuku bekerja di suatu Instansi Negara, Bea dan Cukai. Aku sendiri masih duduk dibangku sekolahan menengah atas.
     Kehidupanku begitu indah sekali. Lengkap. Kekompakan antara aku dan papa-mama. Meskipun terkadang mereka sibuk sebisa mungkin mereka membagi waktunya untukku. Benar beruntung. Setiap Harinya aku selalu di manja, semua kebutuhan terpenuhi dan diberi kebebasan untuk berkembang. Hidup ini Indah.
     Tuhan begitu berbaik hati kepadaku, sungguh Anugrahnya tak terbalaskan dengan apapun. Tapi sering kali aku tak pandai untuk bersyukur atas kebesaran-Nya. Di beri kebebasan oleh orangtuaku, aku pergunakan untuk hura-hura bersama teman, pemborosan, lalai dan sering menunda-nunda. Sekolahku pun dikatakan standard lah. Gak pinter juga Gak bodoh. Tapi untuk urusan ini aku merasa cukup. Tapi orangtuaku tak pernah marah hanya nasihat dan nasihat. Didengarkan saja. Biasa, namanya juga ABG.
Seperti itulah yang sering aku lakukan setiap harinya. Ketika aku sakit, Orangtuaku selalu ada untukku begitu manjanya. Tentu aku beruntung memiliki Orangtua seperti itu.
    
     Suatu ketika kedua orangtuaku berencana mengajakku liburan ke Yogyakarta. kota yang indah. Meskipun nilai rapotku tergolong standard ya mereka tidak marah, lagi-lagi hanya nasihat. Ada rasa bosan mendengar itu.
keesokan harinya.
Rencana itu batal seketika karena papaku menerima tugas untuk pergi ke Bandung. Menyebalkan. Tapi aku tak bisa menuntut karena memang tugas papaku. Akhirnya ayahku berjanji untuk menggantinya lain waktu.
"Adek, maafin papa ya. Papa janji bakal ganti di lain waktu. Kita pergi kemanapun adek mau, kita bertiga. satu pesan ayah jaga mama ya adek jangan bandel saat papa pergi. Love you my little sweety." Itukah kalimat terakhir sebelum ayah pergi berangkat. Luluh.
Tentu saja dirumah hanya ada aku dan mama. Aku membantu mama memasak untuk makan malam kami nanti.
Malam harinya.
Makan malam terasa sepi karena tidak ada papa. Ntahlah tidak ada nafsu sama sekali. hening.
tak lama kemudian. Kring-kring. Secepat kilat aku berlari berharap itu telpon dari papa. Sayang seribu sayang ternyata itu telpon dari rumah sakit di Bandung. Kilat seakan menyambar ketika aku mengangkat telpon itu, terhempas. Terhempas tak berdaya. Air mata sejadi-jadinya. Aku marah. Mamaku jatuh pingsan.
Ya Allah, sungguh ini tak adil. Mengapa secepat ini.
Hartaku yang tak ternilai telah tiada. Serangan Jantung itu dengan mudahnya merenggut. Tidak Adil. Mengapa kau ambil papaku, secepat ini. janji papa. pagi tadi ya tepat sekali pembicaraan kami yang terakhir kalinya. Belum sempat aku meminta maaf dan mengucapkan bahwa sesungguhnya aku sayang kepadanya.Ya Allah, sakit sekali mengapa harus terjadi kepada aku dan mamaku. Tidak Adil, Ya Allah.

Aku tidak percaya. Biarlah air mata ini kering aku habiskan hanya untuk papa. Mamaku. Sedih sekali kepergiaan itu. Tangisannya kepergian sosok amat yang dicintainya, pangeran terakhir hidupnya.

satu minggu kemudian~
Mama memulai aktivitasnya seperti biasanya tetapi tidak dengan semangat dan raut diwajah cantiknya. Kehilangan. Begitu juga aku. Hidup Berdua tanpa pangeran kami. Ntah aku harus bagaimana memulai dengan lebaran baru dan beranjak dari masa sulit ini. Memang banyak orang yang memberi kami semangat agar tidak terlampau jatuh akan kesedihan. Tetapi ini sulit. Sulit sekali.
Doaku " Ya Allah kepergiaan itu begitu sakit. Hilang selamannya. Berilah ketabahan dan keikhlasan untuk aku dan mama. Bantu untuk naik dari jurang yang hitam itu. Sinari mentari hari esok dengan janji kehidupan yang baru untuk kami, berilah ketenangan dan kedamaian untuk papa. Katakan aku begitu mencintainya."

Aku percaya akan janji kehidupan dari Maha Kuasa untuk lebih baik, Allah Berbaik hati kepada Umat-Nya.
Indah pada waktunya, seperti mentari.

"Hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Kehilangan menyakitkan. Bentuk kekuasaan-Nya sehingga kita harus berdamai." - Rembulan tenggelam diwajahmu.

-Dilla Astria

No response to “Aku Mentari”

Leave a reply