Jumat, 09 November 2012

Dibawah Payung



Ku ingat kembali , ketika pertama kali aku bertemu dengannya di suatu perlombaan debat inggris . ku lihat dia yang begitu cool dan smart debat dengan kontestan lainnya. Namun apa daya, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan hanya bisa mangaguminya.
Kulirik jam tanganku, ahhh aku bisa terlambat ujarku. Setelah sarapan dan bersalaman pada orangtuaku, aku pergi ke sekolah dengan menggunakan kendaraan pribadiku. Dengan tas yang berat dan buku yang ku bawa aku berlari masuk ke sekolah berharap guru killer belum masuk ke kelasku sebelum bel berbunyi. Untunglah, aku tak terlambat hari itu. Dimana buku bahasa indonesiaku?kataku dalam hati. Aku mulai berfikir, jika bukuku tersebut hilang ,aku pasti kena marah. Ahh rasanya aku ingin menangis,tapi itu percuma tetap saja buku ku hilang dan entah kemana.
Tettttttt..bel istirahat berbunyi, dari kejauhan terlihat laki-laki berjalan mendekat ke arahku. Dagdidug hatiku saat itu. 
Ia berkata’’ kau yang bernama Tsabittah nabilah?’’gugup rasanya saat itu, dan aku hanya bisa mengangguk. Dengan senyum simpulnya ia berkata
 ‘’ ini bukumu, tadi terjatuh dan aku mengambilnya, maaf tidak langsung mengembalikannya padamu. Karna aku tadi buru-buru takut terlambat’’. Lalu aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terimakasih padanya. Betapa senangnya hatiku, laki-laki tersebut adalah laki-laki yang kulihat di kompetisi debat waktu  itu. Tak menyangka aku bisa satu sekolah dengannya dan bisa bertemu lagi dengannya. ku lirik nama di pakaiannya ‘’ Glacio Orlando’’
***
Saat semua sibuk, berlindung dari tetesan tersebut. Aku biarkan tetesan tersebut mengalir di seluruh tubuhku. Sakit rasanya disakiti, aku hanya bisa menangis. Ku lampiaskan kekesalanku pada hujan. Namun itu sama sekali tidak memecahkan masalah. Tetesan tersebut kini tak lagi membasahiku, tapi aku masih bisa melihat tetesan tersebut membasahi bumi. Aku menoleh ke belakang, ahh Glacio lagi. 
‘’ sudahlah , tak perlu kau tangisi laki-laki seperti itu, ayo semangat kau bisa move on. Masih banyak orang yang menunggumu’’. Aku hanya bisa tersenyum, aku tahu Glacio mulai menyukaiku. Entah mengapa, aku tidak suka dengan Glacio yang seperti ini. Berapa kali, ia mengutarakan perasaannya, tapi tak pernah ku respon. Aku sudah melupakan perasaanku padanya, aku fikir karna kami sahabat. Ya , aku tak ingin berpacaran dengan Glacio walau aku juga menyukainya. Aku berfikir ulang tentang Glacio. Ia memang baik , selalu ada untukku tapi tidak dia sahabatku. Lagi pula, aku masih tak bisa menerima kedatangan dia di hatiku. Aku masih menyayangi orang yang selalu buatku kecewa. Tapi Glacio hanya tersenyum 
‘’ aku akan menunggumu, sampai hatimu terbuka untukku’’.
Ya, hari  ini saatnya aku bisa move on. Betapa bodohnya aku tlah menyia-nyiakan Glacio selama ini. Tapi ini belum terlambat dan hari ini aku membuka hatiku untuk Glacio. Aku akan memberitahukan ke Glacio bahwa aku akan menerima cintanya.  Ku ambil ponselku dan aku menelfonnya ‘’ haloo gla?’’.ia menjawab ‘’ iya, bitah?’’. Ku dengar suara  Glacio sedikit berbeda, ada apa dengannya? ahh mungkin dia baru bangun tidur. ‘’ Gla, hari ini kita pergi sekolah bersama kan?’’. Ia menjawab ‘’ tentu, nanti aku akan menjemputmu.’’ Dan aku mengakhiri pembicaraanku dengannya.
‘’ bitah.....’’ ku dengar suara orang yang tak asing lagi di hidupku. Ya suara Glacio memanggilku, cepat-cepat aku keluar rumah. Ku lihat wajah Glacio yang berbeda tak seperti biasanya. Tapi ah mungkin Glacio sedang sakit. Tangan Glacio melambai-lambai di depan wajahku ‘’ hey bawel, cepetan naik ntar kita terlambat’’. Ahh iya gla..segera aku naik di motor Glacio. Ahh ada apa dengan diriku, mengapa sulit sekali untuk bicara ‘’ aku akan menerima cintamu gla’’. ‘’hey bittah bawel, dengar setelah kita berpisah nantinya dan aku tidak bersamamu lagi, kau harus sukses, dan bisa jaga dirimu baik-baik. Jangan suka menangisi hal yang tak berguna’’. ‘’kau ini , seperti kita akan berpisah hari ini saja. Masih berapa bulan lagi kita akan pisah.’’ Dia hanya tertawa’’kau jangan menangis tak bertemu denganku lagi’’ dia tertawa. Haa sulit menerimanya bahwa nanti aku akan melanjutkan sekolahku di luar negeri dan lama tak bertemu dengannya. Tapi aku harap, ini tidak terlambat.
‘’hey bawel, kau ini melamun terus. Cepat turun, kita sudah sampai’’. 
Haaa lagi-lagi aku melamun , 
‘’ iya..cerewet ‘’ aku pun turun dari motornya. 
‘’pulang sekolah ini, aku tak pulang bersamamu. Aku akan pergi , jadi kau pulang sendiri ya..’’. Lagi-lagi niatku batal , untuk bilang bahwa aku mencintainya dan ia tak perlu menungguku lagi. Tapi ya sudahlah, masih ada hari esok.’’ Iya cerewet’’. Lalu kami berpisah, dia masuk ke kelasnya , dan aku masuk ke kelasku.
Tettttt..bel pulang berbunyi. Siswa-siswi berhambur keluar kelas dengan bahagianya. Begitu pula denganku, ku lihat glacio dari kejauhan keluar gerbang bersama motornya. Belum sampai dirumah, handphone ku bergetar. Ku angkat telfon yang masuk dan ketika mendengar telfon tersebut. Aku menangis sekeras mungkin. Tubuhku lemas sekali. Tapi aku berusaha untuk kuat. Dan sampai di rumah Glacio. Tak sanggup aku melihat keadaan Glacio seperti ini. Ku peluk kuat-kuat ibu Glacio. Tak menyangka, bahwa Glacio secepat ini meninggalkanku, setelah aku mulai bisa melupakannya dan membuka hatiku untuknya. Inikah yang kau maksud berpisah? Inikah yang kau maksud jangan menangisimu setelah kau pergi? Dasar bodoh..mana bisa aku tak menangisimu dalam keadaan seperti ini. Entahlah, aku merasakan badanku lemas sekali. Dan setelah itu,aku tak tahu lagi.
***
Ku buka mataku, semua orang mengelilingiku. Ku tanya pada mereka ‘’ mana Glacio?’’ tapi tak satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaanku . aku menangis kembali,kecewa Glacio tak datang kepadaku disaat aku seperti ini. Aku diantar ke peristirahattan terakhir Glacio.
Disana tangisku semakin menjadi, hujan menemaniku. Ku biarkan hujan membasahi tubuhku, kini tak ada lagi yang membawakanku payung disaat menangis dan kehujanan seperti ini. ‘’Gla..mengapa begitu cepat kau pergi setelah aku bisa membukakan hatiku untukmu. Hari ini gla, tak ada lagi yang membawakanku payung dan lihatlah gla, sekarang gilirankku membawakanmu payung. Ya, gla.. aku akan mendengar kata-katamu.’’

2 tahun tlah berlalu, aku tlah selesai melanjutkan studiku di Amerika. Dan kini aku kembali, aku mengunjungi rumah Glacio untuk bersilatuhrami dengan orangtuanya. Dan aku pun datang ke makam Glacio, untuk mendo’akannya. Setelah mendoakannya, aku ke sebuah tempat dimana aku biasa menangis dan dulu selalu ada Glacio yang menemaniku. Tapi kini, tak ada lagi glacio. Aku hanya tersenyum. Tak setetes pun airmata turun dari mataku. Lalu aku menjerit ‘’ Gla....kau dengar aku? Lihatlah , aku sekarang sudah sukses. Aku tak lagi menangisi hal yang tak berguna, dan aku bisa menjaga diriku gla...apa kau senang gla? tunggulah aku disana gla..seperti kau menungguku disini’’.
Setelah menjerit seperti itu, rasanya bahagia sekali. Setelah itu, aku pergi dari tempat itu. Tapi, ku balikkan badanku sambil berteriak ‘’ aku menyayangimu gla..’’. Dan , di bayanganku glacio tersenyum padaku.
End

No response to “Dibawah Payung”

Leave a reply