Ku ingat
kembali , ketika pertama kali aku bertemu dengannya di suatu perlombaan debat
inggris . ku lihat dia yang begitu cool dan smart debat dengan kontestan
lainnya. Namun apa daya, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan hanya bisa
mangaguminya.
Kulirik jam
tanganku, ahhh aku bisa terlambat ujarku. Setelah sarapan dan bersalaman pada
orangtuaku, aku pergi ke sekolah dengan menggunakan kendaraan pribadiku. Dengan
tas yang berat dan buku yang ku bawa aku berlari masuk ke sekolah berharap guru
killer belum masuk ke kelasku sebelum bel berbunyi. Untunglah, aku tak
terlambat hari itu. Dimana buku bahasa indonesiaku?kataku dalam hati. Aku mulai
berfikir, jika bukuku tersebut hilang ,aku pasti kena marah. Ahh rasanya aku
ingin menangis,tapi itu percuma tetap saja buku ku hilang dan entah kemana.
Tettttttt..bel
istirahat berbunyi, dari kejauhan terlihat laki-laki berjalan mendekat ke
arahku. Dagdidug hatiku saat itu.
Ia berkata’’ kau yang bernama Tsabittah
nabilah?’’gugup rasanya saat itu, dan aku hanya bisa mengangguk. Dengan senyum
simpulnya ia berkata
‘’ ini bukumu, tadi terjatuh dan aku mengambilnya, maaf
tidak langsung mengembalikannya padamu. Karna aku tadi buru-buru takut
terlambat’’. Lalu aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terimakasih padanya.
Betapa senangnya hatiku, laki-laki tersebut adalah laki-laki yang kulihat di
kompetisi debat waktu itu. Tak menyangka
aku bisa satu sekolah dengannya dan bisa bertemu lagi dengannya. ku lirik nama
di pakaiannya ‘’ Glacio Orlando’’
***
Saat semua
sibuk, berlindung dari tetesan tersebut. Aku biarkan tetesan tersebut mengalir
di seluruh tubuhku. Sakit rasanya disakiti, aku hanya bisa menangis. Ku
lampiaskan kekesalanku pada hujan. Namun itu sama sekali tidak memecahkan
masalah. Tetesan tersebut kini tak lagi membasahiku, tapi aku masih bisa
melihat tetesan tersebut membasahi bumi. Aku menoleh ke belakang, ahh Glacio lagi.
‘’ sudahlah , tak perlu
kau tangisi laki-laki seperti itu, ayo semangat kau bisa move on. Masih banyak
orang yang menunggumu’’. Aku hanya bisa tersenyum, aku tahu Glacio mulai
menyukaiku. Entah mengapa, aku tidak suka dengan Glacio yang seperti ini.
Berapa kali, ia mengutarakan perasaannya, tapi tak pernah ku respon. Aku sudah
melupakan perasaanku padanya, aku fikir karna kami sahabat. Ya , aku tak ingin
berpacaran dengan Glacio walau aku juga menyukainya. Aku berfikir ulang tentang
Glacio. Ia memang baik , selalu ada untukku tapi tidak dia sahabatku. Lagi
pula, aku masih tak bisa menerima kedatangan dia di hatiku. Aku masih menyayangi
orang yang selalu buatku kecewa. Tapi Glacio hanya tersenyum
‘’ aku akan
menunggumu, sampai hatimu terbuka untukku’’.
Ya, hari ini
saatnya aku bisa move on. Betapa bodohnya aku tlah menyia-nyiakan Glacio selama
ini. Tapi ini belum terlambat dan hari ini aku membuka hatiku untuk Glacio. Aku
akan memberitahukan ke Glacio bahwa aku akan menerima cintanya. Ku ambil ponselku dan aku menelfonnya ‘’
haloo gla?’’.ia menjawab ‘’ iya, bitah?’’. Ku dengar suara Glacio sedikit berbeda, ada apa dengannya?
ahh mungkin dia baru bangun tidur. ‘’ Gla, hari ini kita pergi sekolah bersama
kan?’’. Ia menjawab ‘’ tentu, nanti aku akan menjemputmu.’’ Dan aku mengakhiri
pembicaraanku dengannya.
‘’ bitah.....’’ ku dengar suara orang yang tak asing lagi
di hidupku. Ya suara Glacio memanggilku, cepat-cepat aku keluar rumah. Ku lihat
wajah Glacio yang berbeda tak seperti biasanya. Tapi ah mungkin Glacio sedang
sakit. Tangan Glacio melambai-lambai di depan wajahku ‘’ hey bawel, cepetan
naik ntar kita terlambat’’. Ahh iya gla..segera aku naik di motor Glacio. Ahh
ada apa dengan diriku, mengapa sulit sekali untuk bicara ‘’ aku akan menerima
cintamu gla’’. ‘’hey bittah bawel, dengar setelah kita berpisah nantinya dan
aku tidak bersamamu lagi, kau harus sukses, dan bisa jaga dirimu baik-baik.
Jangan suka menangisi hal yang tak berguna’’. ‘’kau ini , seperti kita akan
berpisah hari ini saja. Masih berapa bulan lagi kita akan pisah.’’ Dia hanya
tertawa’’kau jangan menangis tak bertemu denganku lagi’’ dia tertawa. Haa sulit
menerimanya bahwa nanti aku akan melanjutkan sekolahku di luar negeri dan lama
tak bertemu dengannya. Tapi aku harap, ini tidak terlambat.
‘’hey bawel, kau ini melamun terus. Cepat turun, kita
sudah sampai’’.
Haaa lagi-lagi aku melamun ,
‘’ iya..cerewet ‘’ aku pun turun
dari motornya.
‘’pulang sekolah ini, aku tak pulang bersamamu. Aku akan pergi ,
jadi kau pulang sendiri ya..’’. Lagi-lagi niatku batal , untuk bilang bahwa aku
mencintainya dan ia tak perlu menungguku lagi. Tapi ya sudahlah, masih ada hari
esok.’’ Iya cerewet’’. Lalu kami berpisah, dia masuk ke kelasnya , dan aku
masuk ke kelasku.
Tettttt..bel pulang berbunyi. Siswa-siswi berhambur
keluar kelas dengan bahagianya. Begitu pula denganku, ku lihat glacio dari
kejauhan keluar gerbang bersama motornya. Belum sampai dirumah, handphone ku
bergetar. Ku angkat telfon yang masuk dan ketika mendengar telfon tersebut. Aku
menangis sekeras mungkin. Tubuhku lemas sekali. Tapi aku berusaha untuk kuat.
Dan sampai di rumah Glacio. Tak sanggup aku melihat keadaan Glacio seperti ini.
Ku peluk kuat-kuat ibu Glacio. Tak menyangka, bahwa Glacio secepat ini
meninggalkanku, setelah aku mulai bisa melupakannya dan membuka hatiku
untuknya. Inikah yang kau maksud berpisah? Inikah yang kau maksud jangan
menangisimu setelah kau pergi? Dasar bodoh..mana bisa aku tak menangisimu dalam
keadaan seperti ini. Entahlah, aku merasakan badanku lemas sekali. Dan setelah
itu,aku tak tahu lagi.
***
Ku buka
mataku, semua orang mengelilingiku. Ku tanya pada mereka ‘’ mana Glacio?’’ tapi
tak satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaanku . aku menangis
kembali,kecewa Glacio tak datang kepadaku disaat aku seperti ini. Aku diantar
ke peristirahattan terakhir Glacio.
Disana
tangisku semakin menjadi, hujan menemaniku. Ku biarkan hujan membasahi tubuhku,
kini tak ada lagi yang membawakanku payung disaat menangis dan kehujanan
seperti ini. ‘’Gla..mengapa begitu cepat kau pergi setelah aku bisa membukakan
hatiku untukmu. Hari ini gla, tak ada lagi yang membawakanku payung dan
lihatlah gla, sekarang gilirankku membawakanmu payung. Ya, gla.. aku akan
mendengar kata-katamu.’’
2 tahun tlah
berlalu, aku tlah selesai melanjutkan studiku di Amerika. Dan kini aku kembali,
aku mengunjungi rumah Glacio untuk bersilatuhrami dengan orangtuanya. Dan aku
pun datang ke makam Glacio, untuk mendo’akannya. Setelah mendoakannya, aku ke
sebuah tempat dimana aku biasa menangis dan dulu selalu ada Glacio yang
menemaniku. Tapi kini, tak ada lagi glacio. Aku hanya tersenyum. Tak setetes
pun airmata turun dari mataku. Lalu aku menjerit ‘’ Gla....kau dengar aku?
Lihatlah , aku sekarang sudah sukses. Aku tak lagi menangisi hal yang tak
berguna, dan aku bisa menjaga diriku gla...apa kau senang gla? tunggulah aku
disana gla..seperti kau menungguku disini’’.
Setelah
menjerit seperti itu, rasanya bahagia sekali. Setelah itu, aku pergi dari
tempat itu. Tapi, ku balikkan badanku sambil berteriak ‘’ aku menyayangimu
gla..’’. Dan , di bayanganku glacio tersenyum padaku.
End
No response to “Dibawah Payung”
Leave a reply